Tuesday, 14 June 2011

no more

Aku....
Tak mau lagi mengasihani lagi diriku sendiri...
Jadi begitupun kalian...
Jangan pernah.... no more...
Aku bukanlah seseorang yang pantas kalian berikan belas.
Terima kasih, namun tak perlulah itu semua.
Karena belas, hanyalah untuk mereka yang lemah.
Cukup!!!
Sudah waktunya untuk menyayangi diri sendiri, menghargai diri sendiri.
Tak ada lagi air mata untuk mereka, mereka yang tak menganggapku ada.

Percaya....
Bukan pada makhluk, namun pada Illahi. Dzat yang maha agung....
Sudah terlalu lama aq melamun.
Hanya meratap, seolah tanpa pegangan.
Padahal Ia-lah yang telah mengaturnya.
Semuanya telah tertulis di Lauhil Mahfudz, dulu... sejak dulu.
Hamba percaya padamu ya Allah.....
Asshadu’alla illaaha illallahh
Wa asshadu’anna muhammadar rasullullah

Terima kasih untuk semuanya yang telah membukakan mata hatiq...

..dia.....


Apakah aku baik-baik saja?                                                                               
Ga bisa semudah itu aku katakan demikian.
Dan sekalipun aku berucap iya iklas,
Nyatanya hati berontak, belum mengamini yang dinyata lidah.

Namun,,,
Salahlah aku jika tetap bertahan.
Terlalu banyak rasa dan logika membisik,
Memaksa hatiku mengakui, jalan itu bukanlah milikku,

Iya,, karena diammu adalah bukti cintamu padanya.

(Is that true that I’m OK?)
 (it is perfectly not easy for me to say so)
(even when my lips declaire it is)
(yet my heart deeply rebels, against what my tongue does)
 (nonetheless.....)
 (it is a giant mistake, if I keep staying)
 (too much logics and feelings disclosed)
 (forcing myself to admit, that path is not mine, it’s other’s)

 (Indeed,, cause your silence reveals that you love her)

One thing, honestly no regret...
God,,,, please help me to make it simple...

Monday, 6 June 2011

Ruang itu...

Segalanya mungkin sudah benar-benar berlalu, sudah benar-benar berubah....
Masih adakah yang akan tersisa??
Semua jawab ada padamu....
Jalinan aku kamu mungkin gak pernah ada
Dari bukan apa2 kembali ke bukan siapa2 lagi...
Tapi kamu... dah menyisakan ruang di hati aku...
Kadang ruang itu redup, kadang terang...
Dan aku gak bisa menahan diriku sendiri untuk gak berkunjung ke ruang itu...
Ruang itu sekarang kosong dan hampa
Namun ada ruang lain di hati aku yang ingin selalu mempertahankannya
Salahkah??
Beri tahu harus aku apakan ruang itu?
Haruskah aku jaga atau hancurkan?
Serba salah... menjaganya berarti mempertahankankan kehampaan
Memusnahkannya sama saja membiarkan sebagian jiwaku pergi
Ah....hanya waktu yang bisa jawab
Bisa saja ruang itu sirna dengan sendirinya ketika ada satu hati
Yang memberikan ruang yang lebih indah dan megah
Yah...who knows? But tuk sementara aku belum siap untuk menjalin rasa lagi...
Luka itu masih ada, sakit.... perih.....
Luka itu terlalu dalam menusuk kalbuku.